Surabaya, Telepon dari seorang dokter di RSU Dr Soetomo Surabaya memberitahukan ada pasien jantung bawaan yang harus segera dioperasi. Pasien anak ini butuh bantuan karena orangtuanya miskin.
Iksan, 3, sebut saja begitu, sekarang tumbuh sehat seperti teman-temannya. Bocah ini tahun lalu menjalani operasi jantung. Awalnya, orangtua Iksan tak tahu anaknya memiliki kelainan jantung. Anak yang selalu sakit-sakitan ini sedang digendong ibunya ketika tiba-tiba ibu Iksan kejang-kejang. Iksan terlempar.
Setelah diperiksa, ibu Iksan diketahui menderita tumor otak. Iksan yang ikut diperiksa karena khawatir terluka akibat terlempar, baru ketahuan menderita penyakit jantung bawaan. Keluarga miskin yang tinggal di Jl Gresik Surabaya ini kebingungan. Suaminya yang menjadi sopir angkot tak bisa berbuat apa-apa. Saat itu salah satu dokter yang tergabung dalam Tim Bedah Jantung RSU Dr Soetomo langsung menghubungi Dian Agus, anggota Paguyuban Tulang Rusuk.
“Pasien anak ini langsung dioperasi. Sekarang dia sudah sehat. Sayang, ketika kontrol terakhir, ibunya belum pulih,” kata Dian saat ditemui, Sabtu (22/12).
Operasi jantung bawaan untuk anak tidak murah. Paling tidak harus ada Rp 60 juta di luar biaya hidup. Ini yang membuat orangtua yang memiliki anak dengan penyakit jantung bawaan makin menderita. Sejak tiga tahun lalu Tim Bedah Jantung selalu memberitahu jika ada pasien anak dari keluarga tidak mampu. Tak perlu menunggu lama, orang-orang dari Tulang Rusuk mengulurkan tangan. Terhitung 48 pasien yang dioperasi dan kondisinya kini membaik.
Dian yang kebagian mengurusi anak-anak ini mengaku proses hingga operasi cukup rumit. “Sebelum operasi, anak-anak ini harus sehat dulu. Padahal mereka sangat rentan batuk-pilek. Sering terjadi ketika siang akan dioperasi, paginya anak pilek. Apalagi menunggu pemulihan anak agar siap operasi cukup lama. Bisa dua hingga tiga bulan,” kata Dian. Karena itu jumlah pasien yang ditangani juga tak bisa banyak dan cepat.
Prof Paul bersama Tim Bedah Jantung menjadi sandaran utama Tulang Rusuk. Karena merekalah, operasi demi operasi bisa dijalankan dengan berbagai kemudahan. Menangani pasien jantung bawaan bukan satu-satunya uluran tangan Tulang Rusuk. Paguyuban yang dibentuk 23 September 2001 ini memiliki cara sendiri untuk berbagi. Komunitas yang saat ini diketuai pengusaha real estat Teguh Kinarto ini sebagian besar anggotanya pengusaha. Tentu tak sulit mendapatkan dana dari mereka.
Tetapi bagi Locke Kosasih, yang memegang Bidang Sosial dalam komunitas ini, bukan itu yang menjadi kunci utama. “Uang mudah didapat karena ada banyak yang mau memberi, tetapi yang diperlukan justru kemauan untuk terlibat dalam kegiatan sosial,” kata Locke. Jika tidak “klik” dengan keinginan membantu, lebih baik tunda dulu.
Cara Locke dan 11 pasangan suami istri yang ada dalam Bidang Sosial ini cukup unik. Secara rutin mereka menghubungi beberapa teman untuk mengumpulkan barang bekas yang masih bisa digunakan. Barang-barang bekas itu dipilah dan diberi harga untuk dijual lagi dengan harga sangat miring. Jangan dibayangkan barang yang dikumpulkan adalah rongsokan. Jangan lupa, mereka yang dihubungi adalah pengusaha yang selalu meng-up grade peralatan rumah tangga dengan model terbaru. Acara garage sale ini menjadi cara untuk mendapatkan dana sekaligus membantu orang lain.
Cara ini terbukti efektif menggugah banyak orang untuk mau terlibat. Dengan dana yang jumlahnya lebih dari Rp 110 juta, Locke leluasa membantu mereka yang luput dari perhatian, seperti memberikan kursi roda dan tongkat untuk para lansia, kacamata untuk anak-anak tak mampu di daerah Wonokromo, atau menambal sekolah yang hampir ambruk, dan membantu anak kurang gizi bekerja sama dengan RSU Dr Soetomo.
Di rumah sakit inilah pasien-pasien miskin mudah ditemui. Mereka pula yang mendapat uluran tangan. “Pokoknya makin hari makin banyak yang ditolong,” ungkap Locke. Meski repot dan menghabiskan energi, ada rapor tertinggi yang diraih komunitas ini saat berbagi. Melihat anak seperti Iksan atau pasien hydrocephalus dari Madura yang sukses menjalani operasi, membuat Locke, Dian, dan anggota komunitas ini bersyukur. Uang memang berlimpah, tetapi tetap saja sentuhan kemanusiaan itu yang membuat jiwa makin kaya./(Endah Imawati )
(disadur dari harian surya, 23 desember 2007/danny)


Renungan Hidup, suatu cara terbaik untuk menuju kesempurnaan dan merefleksikan-diri adalah sarana untuk pengembangan jiwa dalam menghayati arti kehidupan.